Belakangan ini, media sosial dipenuhi berbagai potongan video debat yang viral dan mengundang kontroversi di kalangan masyarakat. Dalam hitungan jam, cuplikan perdebatan dapat menyebar ke seluruh penjuru negeri, menghadirkan jutaan komentar, dukungan, bahkan hujatan. Banyak orang berlomba menunjukkan siapa yang paling benar, siapa yang paling pintar berbicara, dan siapa yang paling mampu menjatuhkan lawan bicara.
Salah satu yang ramai dibicarakan adalah Viranya seorang siswi SMA bernama Josepha Alexandra atau Ocha yang berdebat dengan juri sehingga memicu diskusi nasional tentang keberanian menyampaikan pendapat secara kritis.
Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI sering dipandang sebagai wadah untuk menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi muda. Namun di balik kemeriahan kompetisi dan seremoni penghargaan, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kegiatan seperti ini benar-benar membangun pemahaman kebangsaan, atau hanya menjadi ajang formalitas tahunan?
Tidak sedikit peserta yang akhirnya lebih fokus mengejar kemenangan daripada memahami makna dari nilai-nilai yang diperlombakan. Hafalan menjadi prioritas, sementara penghayatan terhadap demokrasi, persatuan, dan keadilan sosial justru perlahan terlupakan. Akibatnya, lomba hanya melahirkan persaingan angka, bukan kesadaran berbangsa.
Di era ketika generasi muda membutuhkan ruang diskusi yang terbuka dan relevan, pendekatan yang terlalu seremonial justru berisiko membuat nilai-nilai kebangsaan terasa jauh dari realitas kehidupan mereka. Pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui kompetisi semata, tetapi melalui keteladanan, dialog, dan pengalaman nyata dalam kehidupan sosial.
Karena itu, ajang seperti LCC seharusnya tidak hanya mengejar siapa yang paling cepat menjawab, tetapi juga siapa yang paling memahami dan mampu menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab nasionalisme bukan sekadar materi lomba, melainkan sikap yang hidup dalam tindakan.
Padahal, inti dari sebuah debat bukanlah mempermalukan orang lain. Debat seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemampuan menghargai sudut pandang yang berbeda. Sebab seseorang tidak terlihat hebat karena mampu berbicara paling keras, tetapi karena mampu menyampaikan argumen dengan tenang, cerdas, dan penuh etika.
Di era digital saat ini, viral sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Semakin ramai dibicarakan, semakin dianggap penting. Akibatnya, banyak orang lebih tertarik menciptakan sensasi daripada membangun substansi. Padahal popularitas yang lahir dari emosi sesaat akan cepat hilang, sedangkan gagasan yang baik akan selalu diingat.
Dari fenomena debat viral ini, kita belajar bahwa kemampuan berbicara adalah kekuatan. Namun, kekuatan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan keributan. Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa kecerdasan bukan hanya soal memenangkan perdebatan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga sikap, menghormati lawan bicara, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bermartabat.
“Dengan keberanian dalam beragumen, bukan hanya soal kita ingin terlihat, akan tetapi dengan keberanian itu sendiri kita belajar menyampaikan kebenaran, menghargai perbedaan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berpikir
IMMawan Muh Imbang (Sekretaris Bidang EKOWIR PIKOM IMM FAI 2025-2026)
0 Komentar