Hari ini, banyak anak muda sudah berada di posisi penting. Ada yang menjadi ketua organisasi, koordinator aksi, pengurus komisariat, bahkan menjadi wajah gerakan mahasiswa di tengah masyarakat. Termasuk kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang membawa tanggung jawab besar dalam menjaga nilai keislaman, intelektualitas, dan kebermanfaatan bagi umat dan bangsa. Namun realitasnya, menjadi pemimpin hari ini tidak cukup hanya bermodal keberanian berbicara atau kemampuan akademik semata. Tantangan organisasi saat ini bukan hanya tentang program kerja atau forum diskusi, tetapi juga tentang konflik antar kader, ego dalam kepemimpinan, budaya saling menjatuhkan, mental yang mudah lelah, hingga komunikasi yang rusak karena emosi yang tidak terkendali.
Di sinilah pentingnya Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence menjelaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk memahami emosi diri sendiri, mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Goleman bahkan menegaskan bahwa dalam banyak situasi kepemimpinan, EQ sering kali lebih menentukan keberhasilan dibanding kecerdasan intelektual semata. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi memiliki peran besar dalam membangun organisasi yang sehat dan produktif.
Bagi kader IMM, pemahaman tentang kecerdasan emosional menjadi sesuatu yang sangat relevan. Sebab umat hari ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara di mimbar atau forum, tetapi juga pemimpin yang mampu mendengar, tidak mudah tersulut emosi, mampu merangkul perbedaan, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan. Organisasi sering kali tidak runtuh karena kurangnya ide, melainkan karena buruknya komunikasi dan ketidakmampuan anggotanya mengelola ego masing-masing. Pemimpin yang tidak mampu mengendalikan emosi biasanya melahirkan lingkungan organisasi yang keras dalam perdebatan, tetapi rapuh dalam persaudaraan.
David J. Lieberman dalam berbagai pembahasannya mengenai psikologi perilaku menjelaskan bahwa memahami emosi manusia membantu seseorang membangun komunikasi yang sehat, memahami respon sosial, serta menciptakan pengaruh yang lebih positif dalam hubungan sosial maupun kepemimpinan. Pemahaman terhadap emosi membuat seseorang tidak sekadar reaktif terhadap keadaan, tetapi mampu membaca situasi dengan lebih dewasa dan mengambil keputusan secara bijaksana. Dalam konteks gerakan mahasiswa Islam seperti IMM, kemampuan ini menjadi penting agar perjuangan intelektual tetap berjalan seiring dengan nilai humanitas dan ukhuwah.
Karena itu, kader mahasiswa hari ini perlu memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang menjadi yang paling vokal atau paling dominan dalam forum. Kepemimpinan juga tentang kemampuan menyelesaikan masalah tanpa memperkeruh keadaan, mengkritik tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa memutus persaudaraan, serta tetap menjaga nilai kemanusiaan dalam setiap proses perjuangan. Bangsa ini mungkin sudah memiliki banyak orang pintar, tetapi bangsa ini masih membutuhkan lebih banyak pemimpin yang matang secara emosi dan kuat secara moral. Sebab pada akhirnya, pemimpin yang benar-benar hebat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menjaga manusia di sekitarnya agar tetap tumbuh dan bergerak bersama.
IMMawan Akmal Hisyam Assajid (Departemen Bidang Hikmah PIKOM IMM FAI 2025-2026)
0 Komentar