Keteladanan tidak Lahir dari Kata-Kata, Tetapi Tindakan Nyata

Kita tidak ingin melihat adanya penurunan aksi dan semangat pengabdian dalam kader Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah. Sebab organisasi tidak akan bertahan hanya dengan banyaknya
wacana, rapat, ataupun pidato tentang kepemimpinan. Organisasi akan tetap hidup apabila
kader-kadernya mampu menjaga kontribusi, menghadirkan diri dalam perjuangan, serta
membuktikan nilai-nilai yang selama ini diucapkan. Krisis yang sering muncul hari ini bukanlah
kekurangan gagasan, melainkan lemahnya implementasi dari gagasan itu sendiri. Banyak
berbicara tentang keteladanan, tetapi minim aksi nyata untuk mewujudkannya.
Keteladanan sejatinya tidak lahir dari kata-kata yang indah, melainkan dari keberanian
mengambil peran dalam setiap proses organisasi. Kehadiran dalam kegiatan, kesiapan
membantu, dan kesungguhan menjalankan amanah merupakan bentuk nyata dari
kepemimpinan. Sebab seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu menyampaikan solusi
dalam forum, tetapi juga harus menjadi orang pertama yang bergerak merealisasikan solusi
tersebut. Ketika ucapan tidak lagi sejalan dengan tindakan, maka kepemimpinan perlahan
kehilangan makna moralnya.
Kepekaan terhadap situasi juga merupakan nilai yang perlu ditanamkan dalam diri setiap
kader. Sebab kepekaan bukan hanya tentang kemampuan membaca keadaan ataupun
memahami persoalan yang terjadi di sekitar organisasi. Lebih dari itu, kepekaan sejati ialah
keberanian untuk bertindak dan bergerak, sekecil apa pun kontribusi yang dapat diberikan.
Banyak orang mampu melihat masalah, tetapi tidak semua memiliki kesadaran untuk
mengambil peran dalam penyelesaiannya. Padahal organisasi tidak dibangun oleh mereka
yang hanya pandai mengamati, melainkan oleh kader-kader yang bersedia hadir, membantu,
dan membersamai perjuangan secara nyata.
Dalam perspektif filsafat, Aristoteles menjelaskan dalam Nicomachean Ethics bahwa manusia
menjadi adil karena terbiasa melakukan tindakan adil. Artinya, kebajikan tidak terbentuk
melalui teori semata, tetapi melalui kebiasaan nyata yang terus dilakukan. Pemikiran ini
menunjukkan bahwa keteladanan seorang kader ataupun pemimpin tidak cukup dibangun
melalui retorika organisasi, melainkan melalui konsistensi tindakan dan kontribusi nyata
terhadap lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali yang menegaskan bahwa ilmu
tanpa amal hanyalah kehampaan yang tidak memberi manfaat. Dalam pandangan beliau,
kemuliaan seseorang terlihat ketika pengetahuan yang dimiliki mampu diwujudkan menjadi
tindakan yang membawa kebermanfaatan bagi orang lain. Maka, berbicara tentang
kepemimpinan tanpa menghadirkan aksi nyata hanya akan menjadikan nilai-nilai organisasi
berhenti sebagai slogan semata.
Apabila kita memaknai kembali pidato yang pernah disampaikan oleh kakanda pada masa
kepemimpinan PIKOM IMM FAI ketika beliau mengatakan, “Jayalah dikau, abadilah namamu
PIKOM IMM FAI,” maka kalimat tersebut sesungguhnya memiliki makna yang sangat
mendalam. Kalimat itu bukan sekadar seruan emosional ataupun slogan seremonial,
melainkan harapan besar agar organisasi tetap hidup melalui perjuangan kader-kadernya.
Kata “jayalah” mengandung makna kemajuan, keberanian bergerak, dan semangat untuk
terus berkembang. Sedangkan kalimat “abadilah namamu” merupakan simbol harapan agar
nama organisasi tetap dikenang karena karya, pengabdian, serta kontribusi nyata para
kadernya terhadap umat dan masyarakat.
Dengan demikian, keabadian sebuah organisasi tidak ditentukan oleh seberapa sering
namanya disebut dalam pidato, tetapi oleh seberapa besar aksi nyata yang dilahirkan oleh
kader-kadernya. Sebab organisasi akan tetap hidup bukan karena retorika, melainkan karena
pengorbanan, loyalitas, kepekaan sosial, dan keteladanan yang terus dijaga dari generasi ke
generasi.

Oleh IMMawan Saddang Husain (Sekretaris Bidang Organisasi PIKOM IMM FAI 2025-2026)

Posting Komentar

0 Komentar