Jujur saja, dulu saya pikir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hanya soal rapat dan agenda yang tidak ada habisnya. Datang, duduk, dengar arahan, pulang. Begitu terus. Sampai suatu malam setelah rapat komisariat yang melelahkan, kakanda berkata pelan: “anu bukanji lagi buang-buang waktu itu. Tapi sementara belajar ki jadi pemimpin.”
Kalimat itu yang mengubah cara saya melihat gerakan ini.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan organisasi yang melahirkan pemimpin secara instan. Prosesnya lambat, kadang membingungkan. Kamu akan sering salah. Kamu akan kalah debat, gagal di forum, atau merasa keputusanmu tidak dianggap. Tapi justru di sana tempatnya belajar bukan dari teori kepemimpinan yang rapi di buku, tapi dari benturan nyata dengan orang-orang yang berbeda pikiran. Dan itu tidak nyaman. Memang tidak seharusnya nyaman.
Yang saya pahami sekarang: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merawat kader bukan dengan cara memanjakan, tapi dengan cara menantang. Tiap kegiatan, tiap kepanitiaan, tiap perdebatan ideologis itu bukan formalitas. Itu laboratorium. Tempat kita diuji, apakah kita hanya ikut-ikutan atau punya pendirian. Apakah kita hadir karena terpaksa atau karena memang peduli? Dan jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah bisa dibohongi orang-orang di sekitar kita selalu tahu.
Ada yang masuk IMM karena cari pengalaman organisasi. Ada yang masuk karena ajakan teman. Tapi yang bertahan biasanya bukan karena alasan itu. Mereka bertahan karena di suatu titik, tanpa sadar, gerakan ini sudah menjadi bagian dari cara mereka berpikir.
Pemimpin yang lahir dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan yang paling banyak bicara di forum. Tapi yang paling tahu kapan harus diam, kapan harus maju, dan kenapa gerakan ini perlu dijaga. Bukan karena perintah kakanda, tapi karena sudah benar-benar merasakan bahwa ada sesuatu yang berharga di sini. Sesuatu yang tidak akan kamu temukan kalau kamu hanya duduk di pinggir dan menunggu gerakan ini berjalan sendiri.
Merawat gerakan itu berat. Tapi kalau tidak ada yang mau repot, siapa lagi?
IMMawan Abdul Rahman (Departemen Bidang Marga PIKOM IMM FAI 2024-2025)
0 Komentar