Indonesia : Cahaya Kota, Gelap Nurani

“Barangkali negeri ini memang sedang dipimpin oleh manusia-manusia yang terlalu takut kehilangan tepuk tangan. Mereka menyebutnya kepemimpinan, padahal yang berdiri di depan rakyat hari ini hanyalah aktor-aktor politik yang sibuk merawat citra di atas penderitaan. Kebenaran tidak lagi dicari_ia diproduksi. Dipoles media, dibungkus jargon pembangunan, lalu dilempar kepada masyarakat yang terlalu lelah untuk terus mempertanyakan.

Yang kritis disebut ancaman. Yang diam dipuji sebagai warga teladan.

Dan perlahan bangsa ini tidak dibunuh dengan peluru, tetapi dengan pembiasaan untuk tunduk.

Mereka bicara tentang kemajuan sambil memperlihatkan angka pertumbuhan dan proyek-proyek simbolik. Program makan bergizi gratis, gentengisasi, koperasi merah putih_semuanya diumumkan dengan gegap gempita, seolah republik bisa diselamatkan hanya dengan slogan dan logo. Dapur SPPG dibangun begitu cepat, seakan itulah denyut utama masa depan bangsa. Tapi di saat yang sama, sekolah-sekolah di pelosok tetap nyaris roboh, guru minim, buku usang, anak-anak belajar di ruang yang bahkan tak layak disebut tempat menuntut ilmu.

Jadi persoalannya bukan negara tidak mampu membantu rakyat di pelosok. Negara mampu. Sangat mampu. Hanya saja penderitaan mereka bukan prioritas. Luka di timur terlalu jauh dari kamera, terlalu sunyi untuk dijadikan panggung pencitraan.

Dari Film Pesta Babi seakan menjadi pengingat keras bahwa Papua bukan tanah kosong. Timur bukan halaman belakang republik. Tapi negeri ini terlalu sibuk memusatkan dirinya pada Jawa, hingga daerah lain hanya diingat ketika pidato membutuhkan kata ‘keberagaman’. Setelah itu mereka kembali ditinggalkan bersama jalan rusak, listrik yang tak menentu, layanan kesehatan yang mahal dijangkau, dan sekolah reyot yang tak pernah masuk headline nasional.

Ironisnya, pemerintah terus berbicara atas nama rakyat sambil perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengar rakyat.

Barangkali benar semangat yang pernah hidup dalam kegelisahan Soe Hok Gie: ada titik ketika manusia muak melihat kota dipenuhi kemunafikan yang dirawat seperti kewajaran. Dan mungkin benar juga bayangan pemikiran Friedrich Nietzsche bahwa masyarakat paling berbahaya adalah masyarakat yang kehilangan keberanian untuk mempertanyakan. Sebab ketika manusia berhenti berpikir, penguasa tak perlu lagi menjadi bijak_cukup menjadi populer.

Negeri ini akhirnya dipimpin bukan oleh gagasan, melainkan pencitraan. Moral diganti algoritma. Integritas diganti elektabilitas. Beton lebih dibanggakan daripada keadilan. Lampu kota lebih dirawat daripada nurani manusia.

Dan dari segala riuh pidato itu, saya mulai memahami mengapa sebagian orang memilih mengasingkan diri ke sunyinya gunung dan teduhnya ombak pantai: sebab alam masih lebih jujur daripada manusia-manusia yang terus berbicara tentang rakyat sambil perlahan melupakan mereka.”

IMMawan Muhammad Al Mashadi Al Azizi (Departemen Bidang Marga PIKOM IMM FAI 2024-2025)

Posting Komentar

0 Komentar