Rekonstruksi kepemimpinan IMM harus berangkat dari penguatan tiga basis utama gerakan, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Kepemimpinan tidak lagi hanya berorientasi pada jabatan struktural, tetapi pada sejauh mana kader mampu memberikan manfaat dan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Seorang pemimpin IMM harus hadir sebagai pelopor solusi, penggerak perubahan, dan penjaga nilai-nilai keislaman serta kemanusiaan.
Dalam konteks ini, gerakan berdampak berarti gerakan yang mampu menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. IMM tidak boleh terjebak pada seremoni organisasi semata, tetapi harus aktif membangun ruang pengabdian melalui pendidikan, advokasi sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga literasi digital. Kepemimpinan yang berdampak lahir dari keberanian untuk turun langsung ke lapangan, mendengar keresahan rakyat, dan menghadirkan aksi nyata yang berkelanjutan.
Pendiri Muhammadiyah, KH.Ahmad Dahlan, pernah mencontohkan bahwa gerakan tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi umat. Semangat inilah yang seharusnya menjadi ruh kepemimpinan IMM hari ini. Kader IMM perlu membangun budaya kolaboratif, inovatif, dan progresif agar organisasi tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Sebagaimana ungkapan Buya Hamka, “Kebesaran seseorang tidak terletak pada kedudukannya, tetapi pada manfaatnya bagi orang lain.” Kutipan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan sekadar popularitas atau kekuasaan, melainkan sejauh mana kehadirannya mampu membawa dampak positif bagi masyarakat.
Dengan demikian, rekonstruksi kepemimpinan IMM harus diarahkan pada lahirnya kader-kader visioner yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara sosial dan kokoh secara spiritual. Dari kepemimpinan seperti inilah gerakan IMM yang berdampak akan terus tumbuh dan menjadi kekuatan perubahan bagi umat dan bangsa.
Oleh IMMawan Ramdhani Saputra (Sekretaris Bidang Tabligh Kajian Keislaman PIKOM IMM FAI 2025-2026)
0 Komentar