September bukan sekadar pergantian bulan. Di baliknya terdapat sejumlah catatan kelam perjalanan bangsa, khususnya tentang kekerasan, ketidakadilan, dan persoalan hak asasi manusia yang hingga hari ini masih menyisakan pertanyaan.
maka dari itu kami dari bidang hukum dan HAM pikom imm fai unismuh makassar mengajak para pembaca untuk bagaimana memahami sejarah ini bukan hanya sekedar sejarah dan formalitas , tetapi bagaimana memaknai dan merefleksi kembali makna dari kata September hitam .
Mengenang September Hitam bukan berarti terus hidup dalam masa lalu. Justru, ingatan menjadi penting agar peristiwa yang pernah terjadi tidak hilang begitu saja dan perjuangan para korban tidak berhenti hanya sebagai catatan sejarah.
Salah satu nama yang terus dikenang adalah Munir Said Thalib, seorang pejuang HAM yang meninggal pada September 2004. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keberanian memperjuangkan kemanusiaan terkadang harus berhadapan dengan persoalan hukum dan kekuasaan yang kompleks.
Namun, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang menjadi korban. Lebih jauh, kita perlu mempertanyakan bagaimana negara, hukum, dan masyarakat merespons ketidakadilan. Sebab, keadilan tidak cukup hanya dibicarakan; ia harus diwujudkan melalui keberanian untuk mencari kebenaran dan memastikan hak setiap manusia dihormati.
Bagi generasi muda, mengenang September Hitam seharusnya menjadi ruang untuk belajar lebih kritis. Bukan sekadar membuat unggahan atau mengikuti momentum, tetapi memahami bahwa menjaga ingatan adalah bagian dari menjaga nilai kemanusiaan dan demokrasi.
September pada akhirnya akan berlalu, tetapi ingatan tidak seharusnya ikut hilang. Sebab ketika sejarah terus diingat, kita memiliki kesempatan untuk belajar, mempertanyakan, dan memastikan bahwa ketidakadilan tidak kembali dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
#hiduprakyatindonesia
#hidupmahasiswa
#hidupperempuanyangmelawan
Oleh IMMawati : Selfi
(Sekretaris Bidang Hukum & Ham)
0 Komentar