Harapan yang Mati di Ujung Helm.

ARIANTO TAWAKAL  Anak 14 Tahun, didamba-dambakan menjadi salah satu bagian dari generasi emas kini telah hilang, mati ditangan okum dengan atribut yang mereka banggakan. harusnya dia pulang dengan senyum lebarnya, malah pulang dengan kain kaffan yang menutupi wajahnya. hilang sudah rasanya hati nurani mati terkubur bersama harapan kami.

awal bulan suci Ramadhan yang dibuka dengan kehancuran hati seorang ibu, memandang tubuh mungil anaknya tersungkur tak berdaya. Ruas jln dekat RSUD Maren yang menjadi saksi atas matinya secerca harapan di ujung helm. apakah ini nasib yang harus diterima oleh kaum pidak pedarakan?

Merujuk pada buku 1984 Karya George Orwell، Saat O'Brien menjelaskan tentang bagaimana sistem kekuasaan berjalan di Oceania "Jika kau ingin gambaran masa depan, bayangkan sepatu bot menginjak wajah manusia selamanya." Orwell memberikan gambaran tentang sistem politik yang kacau balau, kekuasaan yang harusnya bertujuan tuk kesejahteraan bangsa malah hilang bak ditelan bumi. segala hal yang bersifat kebebasan individual yang telah hilang dengan 3 kata "Big Brother mengawasimu" setiap sudut sempit kota selalu pantau dengan Telescreen. Mungkin sistem seperti itu yang di damba-dambakan oleh pemerintah kita sekarang, yang membuat kita terus berpura pura buta nan tuli atas segala kejahatan yang sistem lakukan

Dan saat ini? kembali lagi kehancuran reformasi akibat ulah para kaum pekok, yang lagi-lagi diakhiri permintaan maaf. apakah permintaan maaf itu akan membuat anak itu hidup lagi?, apakah dengan permintaan maaf itu akan membuat kami lupa seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa?. semoga saja hukum yang katanya tumpul tak lupa jikalau ia tertakdirkan untuk tajam.

IMMawan Muh Labib (Departemen Bidang Hikmah)

Posting Komentar

0 Komentar