Hari Buruh : Darah, Keringat dan Pengkhianatan.

Di balik gemuruh roda ekonomi yang tak pernah lelah berputar, tersembunyi cerita kelam perjuangan buruh, darah yang tertumpah, keringat yang mengalir deras, dan pengkhianatan dari manusia-manusia serakah yang berkuasa yang merampas hak mereka. Hari buruh nasional pada 1 Mei bukan sekedar peringatan, melainkan jeritan abadi atas martir pekerja yang membangun bangsa dengan tulang punggung mereka sendiri, sementara kesejahteraan mereka di renggut oleh segelintir manusia serakah yang menjustifikasi dirinya sebagai penguasa berwajah manis di depan khalayak. 

Buruh, bersama para pejuang di medan tempur atau panggung politik, punya peran besar dalam kemerdekaan. Sejarah mencatat pasang surut nasib mereka, penuh catatan kelam dari tangan pemerintah sendiri. Di masa perjuangan kemerdekaan, buruh aktif membentuk serikat seperti SOB (Sarekat Islam Buruh) dan VSTP (Vereenigde Spooren Tramweg Personeelen), turut bergerak demi kemajuan bangsa. Namun, pasca-kemerdekaan, tragedi berdarah menimpa.

Pada 1948, "Peristiwa Madiun" adanya pembantaian yang dilakukan oleh militer dengan estimasi korban jiwa 35.000-100.000 tewas dan mayoritas yang menjadi korban ialah dari kaum buruh dan petani. Era Orde Baru makin mengerikan, pembantaian massal 1965-1966 menarget serikat buruh kiri seperti SOBSI, jutaan buruh dibunuh, dipenjara, atau hilang oleh militer dan antek-anteknya.

Kebebasan mereka dipenggal habis.
Gaya pemerintahan militeristik dengan cengkeraman besi mengekang segala suara oposisi. Wadah tunggal seperti SPSI dibentuk untuk dikontrol, khususnya para pekerja negara dan swasta. 

Penguasa bahkan memaksa mereka memilih partai berkuasa. Buruh, tulang punggung perekonomian, dikerdilkan jadi alat. Fungsi mereka tereduksi, produksi demi target, hak mereka dibatasi aturan administratif dan intimidasi. Tugas mereka sekadar mencetak keuntungan untuk manusia-manusia serakah yang katanya pemimpin bangsa.

Seperti ditegaskan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Gadis Pantai: "Buruh itu seperti tanah yang subur, tapi ditanami benih asing, panennya dinikmati tuan-tuan."

Dan Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran menyoroti: "Buruh Indonesia adalah korban revolusi yang tak pernah selesai, dihancurkan oleh oligarki yang mengklaim nasionalisme."

Dalam lamunan penulis berpikir “memang betapa banyaknya ketidakadilan didunia ini. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga Dimana-mana di seluruh Indonesia. Di Guatamala, Vietnam, Amerika Serikat, Rusia, Ceko, Afrika, dan lain-lainnya. Seolah-olah dunia ini Adalah tumpukan sampah dari nafsu dan ketamakan manusia. Kadang-kadang saya berpikir apakah tidak lebih baik meledakkan dunia ini agar supaya semuanya berakhir”

Tapi hentikan pikiran itu, karena di Tengah kegelapan itu lahir api perlawanan yang membakar Tirani. Bayangkan kamerad peristiwa Haymarket 1886 di Chicago, bom meledak di Tengah demonstrasi damai, bukan untuk hancurkan dunia, tapi melahirkan api-api perlawanan yang selama ini hanya terbendung dalam setiap ingatan individu-indivu yang merasakan kesengsaraan. Dan hari itu pula sebuah momentum besar lahir yang dikenal hingga saat ini sebagai hari buruh internasional. Di Indonesia mogok buruh Indonesia 1920-an, ribuan pekerja kereta api VTSP lumpuhkan colonial Belanda, goyangkan kekaisaran hingga retak fondasinya itulah darah yang tak sia-sia.

Maka dari itu penulis berseru kepada pembaca bahwa “Api perlawanan dari ketidakadilan itu akan terus ada tak pernah padam, ia terus berlipat ganda, dari generasiku hingga sampai ke generasi mu” dan sebagai penutup penulis ucapkan secara sadar: “Selamat Hari Buruh! Semoga dikemudian hari engkau merasakan hidup yang sebagaimana mestinya.”

IMMawan Muh Anas Hamsan (KaBid Hukum & HAM PK IMM FAI Periode 2025-2026).

Posting Komentar

0 Komentar